Rabu, 29 Juli 2015
Selasa, 14 Juli 2015
Contoh Jurnal Sistem Informasi
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT BERUPA REKAM MEDIS BERBASIS ELEKTRONIK
Aisyah Fitriani Arum
Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM ) Banyuwangi, Jl. A Yani no 80, Banyuwangi, 68416, Indonesia
Email: smile_aist@yahoo.com
ABSTRAK
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan publik dalam bidang
kesehatan. Namun sampai saat ini masih banyak rumah sakit yang masih
menggunakan sistem manual untuk melakukan pendataan terhadap pasien.
Oleh karena itu rumah sakit membutuhkan suatu sistem informasi manajemen
yang dapat membantu dalam pendataan pasien. Sehingga dapat meningkatkan
pelayanan kepada para pasien. Salah satu dari sistem informasi
manajemen tersebut adalah rekam medis. Rekam medis merupakan berkas yang
berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien. Penelitian ini
bertujuan untuk memberi gambaran Sistem Informasi Manajemen (SIM) Rumah
Sakit berupa rekam medis berbasis elektronik. Penelitian ini adalah
penelitian deskriptif dengan menggunakan metode penelitian pendekatan
analisis kualitatif untuk mengukur kepuasan pasien terhadap pelayanan
rumah sakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu permasalahan
rumah sakit terutama dalam pendataan pasien. Kesimpulan dari penelitian
ini adalah pelayanan rumah sakit yang cepat, efisien, akurat dan
terperinci mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pasien.Kata kunci: Rumah Sakit, SIM, Rekam Medis, Rekam Medis Elektronik
1. PENDAHULUAN
Dengan berkembang pesatnya teknologi sistem informasi saat ini maka
penyajian informasi secara efisien dan efektif semakin dibutuhkan.
Penyajian informasi seharusnya sudah beralih dari sistem lama yaitu
pencatatan manual menjadi system komputerisasi. Demikian halnya
pencatatan data pasien di suatu Rumah Sakit.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/1992 Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian [1]. Rumah sakit yang merupakan salah satu pelayanan publik di bidang kesehatan membutuhkan adanya suatu sistem informasi managemen yang mengatur tentang pendataan pasien.
Sistem informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam bidang tertentu. Dalam sistem informasi diperlukannya klasifikasi alur informasi, hal ini disebabkan keanekaragaman kebutuhan akan suatu informasi oleh pengguna informasi. Kriteria dari sistem informasi antara lain, fleksibel, efektif dan efisien [2]. Sedangkan Sistem Informasi Managemen (SIM) didefinisikan sebagai alat untuk menyajikan suatu informasi dengan cara sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi penerimanya (Kertahadi, 1995). Tujuannya adalah menyajikan informasi guna pengambilan keputusan pada perencana, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan dan menyajikan sinergi organisasi pada proses (Murdick dan Ross , 1993) [3]. Sesuai UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Dijelaskan bahwa pada Bab XI Tentang Pencatatan dan Pelaporan, khususnya Pasal 52 ayat (1) “Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit”, oleh karena itu dibutuhkan adanya penyedia informasi lengkap dan akurat untuk setiap pasien yaitu rekam medis.
Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Gemala Hatta, 2008). Rekam medis ini bersifat rahasia, aman, dan berisi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun kondisi pada saat ini adalah masih ada rumah sakit yang masih menggunakan rekam medis secara konvensional (tertulis) dalam bentuk tumpukan arsip. Sering kali kartu rekam medis melakukan pendataan secara berulang dan juga tidak diorganisir dengan rapi sehingga rumah sakit kesulitan dalam menyediakan informasi secara cepat, efisien , akurat dan terperinci.
Solusi yang dapat dilakukan adalah menerapkan Teknologi Informasi (TI) pada rumah sakit yaitu dengan membuat system informasi managemen berupa rekam medis berbasis komputerisasi atau elektronik. Rekam medik elektronik (rekam medic berbasis-komputer) adalah gudang penyimpanan informasi secara elektronik mengenai status kesehatan dan layanan kesehatan yang diperoleh pasien sepanjang hidupnya, tersimpan sedemikian hingga dapat melayani berbagai pengguna rekam yang sah (Shortliffe, 2001). Rekam medik elektronik merupakan catatan rekam medik pasien seumur hidup pasien dalam format elektronik tentang informasi kesehatan seseorang yang dituliskan oleh satu atau lebih petugas kesehatan secara terpadu dalam tiap kali pertemuan antara petugas kesehatan dengan klien. Rekam medik elektronik bisa diakses dengan komputer dari suatu jaringan dengan tujuan utama menyediakan atau meningkatkan perawatan serta pelayanan kesehatan yang efesien dan terpadu (Potter & Perry, 2009).
3. HASIL dan PEMBAHASAN
Dari metode analisis yang telah dilakukan dapat diketahui kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sistem seperti pada gambar 2 serta aliran data rekam medis pada gambar 3 untuk kemudian digunakan dalam perancangan sistem informasi managemen (SIM) rumah sakit berupa rekam medis berbasis elektronik.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/1992 Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian [1]. Rumah sakit yang merupakan salah satu pelayanan publik di bidang kesehatan membutuhkan adanya suatu sistem informasi managemen yang mengatur tentang pendataan pasien.
Sistem informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam bidang tertentu. Dalam sistem informasi diperlukannya klasifikasi alur informasi, hal ini disebabkan keanekaragaman kebutuhan akan suatu informasi oleh pengguna informasi. Kriteria dari sistem informasi antara lain, fleksibel, efektif dan efisien [2]. Sedangkan Sistem Informasi Managemen (SIM) didefinisikan sebagai alat untuk menyajikan suatu informasi dengan cara sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi penerimanya (Kertahadi, 1995). Tujuannya adalah menyajikan informasi guna pengambilan keputusan pada perencana, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan dan menyajikan sinergi organisasi pada proses (Murdick dan Ross , 1993) [3]. Sesuai UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Dijelaskan bahwa pada Bab XI Tentang Pencatatan dan Pelaporan, khususnya Pasal 52 ayat (1) “Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit”, oleh karena itu dibutuhkan adanya penyedia informasi lengkap dan akurat untuk setiap pasien yaitu rekam medis.
Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Gemala Hatta, 2008). Rekam medis ini bersifat rahasia, aman, dan berisi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun kondisi pada saat ini adalah masih ada rumah sakit yang masih menggunakan rekam medis secara konvensional (tertulis) dalam bentuk tumpukan arsip. Sering kali kartu rekam medis melakukan pendataan secara berulang dan juga tidak diorganisir dengan rapi sehingga rumah sakit kesulitan dalam menyediakan informasi secara cepat, efisien , akurat dan terperinci.
Solusi yang dapat dilakukan adalah menerapkan Teknologi Informasi (TI) pada rumah sakit yaitu dengan membuat system informasi managemen berupa rekam medis berbasis komputerisasi atau elektronik. Rekam medik elektronik (rekam medic berbasis-komputer) adalah gudang penyimpanan informasi secara elektronik mengenai status kesehatan dan layanan kesehatan yang diperoleh pasien sepanjang hidupnya, tersimpan sedemikian hingga dapat melayani berbagai pengguna rekam yang sah (Shortliffe, 2001). Rekam medik elektronik merupakan catatan rekam medik pasien seumur hidup pasien dalam format elektronik tentang informasi kesehatan seseorang yang dituliskan oleh satu atau lebih petugas kesehatan secara terpadu dalam tiap kali pertemuan antara petugas kesehatan dengan klien. Rekam medik elektronik bisa diakses dengan komputer dari suatu jaringan dengan tujuan utama menyediakan atau meningkatkan perawatan serta pelayanan kesehatan yang efesien dan terpadu (Potter & Perry, 2009).
Gambar 1. Gambaran Rekam Medis berbasis Elektronik
2. METODOLOGI
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode
penelitian pendekatan analisis kualitatif untuk mengukur kepuasan
pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Penelitian deskriptif mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam
masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan,
serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari
suatu fenomena[4]. Sedangkan metode penelitian analisis kualitatif
dilakukan dengan cara pengumpulan informasi dengan menyebarkan kuisoner,
melakukan observasi dan pengamatan, dan melakukan wawancara kepada para
pasien serta orang-orang yang pernah mempelajari dan mengerti tentang
rekam medis sehingga dapat memahami data aliran rekam medis yang sedang
berlaku di rumah sakit serta dapat mengetahui tingkat kepuasan pasien
terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.3. HASIL dan PEMBAHASAN
Dari metode analisis yang telah dilakukan dapat diketahui kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sistem seperti pada gambar 2 serta aliran data rekam medis pada gambar 3 untuk kemudian digunakan dalam perancangan sistem informasi managemen (SIM) rumah sakit berupa rekam medis berbasis elektronik.
Gambar 2. Pendapat dari pihak terlibat
Gambar 3. Aliran Data Sederhana Rekam medis
Dari aliran data sederhana diatas dapat dibuat use case untuk rekam
medis berbasis elektronik. Use-case adalah konstruksi untuk
mendeskripsikan bagaimana sistem akan terlihat di mata pengguna
potensial. Use-case terdiri dari sekumpulan skenario yang dilakukan oleh
seorang aktor (orang,perangkat keras,urutan waktu atau sistem yang lain
). Sedangkan use-case diagram memfasilitasi komunikasi di antara analis
dan pengguna serta diantara analis dan klien [5].
Gambar 4. Usecase Diagram Sistem
Pada Usecase Diagram di atas terdapat 3 user yang dapat menggunakan
sistem,yaitu admin, petugas pendaftaran, dan dokter. Admin dapat
mengelola data dokter, pasien, petugas pendaftaran, jenis layanan, jenis
persalinan, kelola obat. Petugas pendaftaran dapat mengelola data
pasien, data anak, dan proses pendaftaran pasien. Dokter dapat membuat
rekam medis, melihat catatan rekam medis pasien dan membuat resep untuk
pasien[5].4. KESIMPULAN
Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya Sistem Informasi Managemen (SIM) rumah sakit berupa rekam medis berbasis elektronik sangat dibutuhkan oleh rumah sakit karena dapat memberikan pelayanan berupa informasi dengan cepat, efisien, akurat serta terperinci kepada para pasien. Sehingga berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien.
5. REFERENSI
[1] Al-fatta, Hanif. (2008). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi untuk Keunggulan Bersaing.
[2] Imbar, Radiant Victor & Yuliusman Kurniawan. (2012). Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Medis Rawat Jalan Poliklinik Kebidanan dan Kandungan pada RSUD Kota Batam. Jurnal Sistem Informasi, 07(1). hal 56.
[3] Jayanti, Nusye K. I. (2009). Penyelesaian Hukum dalam Malapraktik Kedokteran.
[4] Nazir, moh Ph. D. (2003) Metode Penelitian. Jakarta: PT Gramedia. hal 16
[5] Sabarguna, MARS, Dr. dr. H. Boy S. (2005). Sistem Informasi Rumah Sakit.
Jumat, 10 Juli 2015
Contoh Jurnal Sistem informasi manajemen dan pengambilan keputusan bisnis
Sistem Informasi Manajemen dan Pengambilan Keputusan Bisnis: Review, Analisis, dan Rekomendasi
Diterjemahkan/dikutip dari:
http://www.aabri.com/manuscripts/10736.pdf
http://www.aabri.com/manuscripts/10736.pdf
Penulis: Srinivas Nowduri
Bloomsburg University of Pennsylvania
Bloomsburg University of Pennsylvania
Abstrak
Peran Sistem Informasi Manajemen dijelaskan dan dianalisis sebagai kemampuan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan dan dampaknya terhadap manajemen tingkat atas dalam organisasi bisnis dijelaskan dengan penekanan pada pengambilan keputusan otomatis. Keterbatasan dan tantangan SIM dibahas dan satu set enam rekomendasi yang diusulkan untuk meningkatkan efektivitas SIM dalam proses pengambilan keputusan.
Pengantar
Sistem Informasi dapat dikonseptualisasikan dalam tiga jenis system, yaitu: Transaksional Pengolahan Sistem (TPS), Sistem Informasi Manajemen (SIM), dan Expert Sistem. SIM memiliki beberapa subset seperti Sistem Pendukung Keputusan dan Informasi Eksekutif Sistem. Peran SIM dalam mendukung keputusan ini sebaiknya dibicarakan dalam konteks subset tersebut sebagai Sistem Pendukung Keputusan (DSS). DSS adalah sebuah sistem berbasis komputer (suatu program aplikasi) yang mampu menganalisis suatu data organisasi dan kemudian menyajikan dengan cara yang membantu pengguna untuk membuat keputusan bisnis yang lebih efisien dan efektif.
Sebagai contoh, sistem pendukung keputusan dapat memberikan:
• Perbandingan angka penjualan selama satu minggu / bulan dan berikutnya
• Proyeksi pendapatan angka berdasarkan asumsi penjualan produk baru
• Konsekuensi dari alternatif keputusan yang berbeda, mengingat pengalaman masa lalu.
Kadang-kadang ada tumpang tindih antara kategori besar Sistem Informasi (SI) dan DSS bisa mampu menyajikan informasi secara grafis melalui sistem pakar atau kecerdasan buatan (AI). Biasanya DSS digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam organisasi bisnis. Top Tingkat manajemen menggunakan DSS untuk keputusan strategis, manajemen menengah menggunakan untuk keputusan taktis sementara pengawas baris pertama digunakan untuk menyebarkan sehari-hari keputusan operasional.
Oleh karena itu, proses pengambilan keputusan dalam bisnis apapun merupakan aspek penting, tidak hanya untuk organisasi tetapi juga bagi individu yang sangat bergantung pada keputusan ini untuk kelangsungan hidup mereka di arena kewirausahaan yang sangat kompetitif (Al-Zhrani, 2010, p.1249-1251).
Menurut Kumar (2006), dalam rangka untuk menentukan SIM, harus dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu: manajemen, informasi, dan sistem. Kumar hanya mendefinisikan manajemen sebagai proses manajer merencanakan, mengatur, memulai dan mengendalikan operasi dalam bisnis. Pada dasarnya, manajemen hanya bisa eksis bila ada subjek / pekerja untuk dikelola (Al-Zhrani, 2010, p.1248-1252; The Maniac, nd).
Kumar juga menyatakan bahwa informasi yang umumnya mengacu pada data yang dianalisis. Dengan kata lain, Informasi (berkaitan dengan bisnis) hasil dari data yang dianalisis menggunakan undang-undang bisnis, prinsip-prinsip dan teori-teori yang dikemukakan oleh berbagai ahli makro ekonomi. Akhirnya, sistem, menurut Kumar, mengacu pada "Satu set elemen bergabung bersama-sama untuk tujuan bersama”.
Berdasarkan definisi tersebut di atas, Sistem Informasi Manajemen mengacu pada sistem yang menggunakan informasi dalam rangka untuk memastikan pengelolaan usaha. Pada dasarnya, semua aspek SIM dijalankan bersamaan dalam rangka untuk menjamin efisiensi keseluruhan system. Kegagalan dalam satu bagian berarti kegagalan keseluruhan untuk bagian-bagian lain karena mereka semua dirancang untuk berfungsi interdependently (Davenport & Short, 1990).
Konsekwensinya, manajemen yang baik dari sistem informasi yang baik akan mendapatkan keputusan-keputusan yang baik dalam bisnis. Sekarang berdasarkan pada konsep dasar bahwa tulisan ini akan saksama menganalisis peran Sistem Informasi Manajemen dalam pengambilan keputusan.
Khususnya, penelitian ini akan diatur sebagai berikut: Penelitian ini akan dimulai dengan memberikan gambaran gambaran dalam proses pengambilan keputusan dalam bisnis. Dari sini, analisis luas dan peninjauan akan dilakukan pada peran SIM, kemudian akan diikuti dengan menyebutkan daerah dipertanyakan terkait dengan SIM dan pengambilan keputusan. Setelah itu, rekomendasi dan kesimpulan akan diberikan untuk memecahkan masalah.
Peran MIS dalam Meningkatkan pengambilan keputusan
Preliminarily, manyatakan, pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari setiap bisnis (The maniak, nd). Hal ini karena mayoritas operasi dalam suatu organisasi berkisar sekitar keputusan yang dibuat oleh manajemen dan pemangku kepentingan lainnya dalam organisasi. Dan agar keputusan yang akan dibuat memadai, untuk itu sangat penting sistem informasi yang baik karena keputusan didasarkan pada informasi yang tersedia.
Dalam hubungan ini, Jahangir (2005) menyatakan bahwa berdasarkan peran Informasi yang signifikan sangat penting dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat, organisasi harus memastikan bahwa mereka memiliki sistem informasi manajemen yang baik.
Sebagai pertimbangan utama, Sistem Informasi Manajemen sangat kompleks dan halus, yang membutuhkan ketelitian dalam pengambilan keputusan yang harus diambil oleh manajer. Hal ini menjadi alasan bahwa suatu organisasi untuk dapat memastikan bahwa telah memilih individu yang tepat untuk mengontrol sistem informasi. Orang yang berhati-hati dan profesional adalah, orang yang dapat menjamin prospek positif dalam SIM berkaitan dengan pengambilan keputusan dan lain yang terkait di bidang bisnis (Lingham, 2006).
Beberapa argumen ilmiah, fakta, pendapat dan pengamatan yang dilakukan oleh berbagai makro ekonomi berkaitan dengan peran Sistem Informasi manajemen dalam meningkatkan pengambilan keputusan, sebagai berikut:
SIM menyediakan platform yang cocok untuk pengambilan keputusan yang baik (Kumar, 2006). Pada dasarnya, tanpa system informasi yang untuk mendapatkan informasi, akan sangat sulit bagi organisasi untuk membuat suatu keputusan.
Selain itu, hal ini sangat penting karena membantu dalam menjaga bisnis, sehingga memastikan bahwa hanya keputusan yang telah terbukti yang digunakan, sementara yang belum dicoba adalah akan digagalkan. Lebih penting lagi, kapasitas untuk memandu pengambilan keputusan memfasilitasi kemajuan dan peningkatan operasi di sebuah perusahaan (Lingham, 2006; Chambers, 1964, hal.15-20).
Penting bagi perusahaan dalam generasi modern, di mana setiap kesalahan kecil dalam pengambilan keputusan dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar (Allen, et al., 2010).
Dengan pemrograman Sistem Informasi Manajemen yang rutin, bisnis pasti akan membuat kemajuan positif dan sumber daya dapat dengan mudah disalurkan ke jalur bisnis yang sah (Allen, et al., 2010).
Sebagai titik fundamental, SIM yang digunakan saat ini dapat melakukan banyak tugas pada waktu yang sama. Ini potensi untuk multitask meningkatkan efisiensi dalam suatu perusahaan karena beberapa operasi bisnis dapat dilakukan secara bersamaan. Dengan hal khusus pengambilan keputusan, kemampuan untuk multitask memastikan bahwa keputusan dibuat cepat bila dibandingkan dengan sistem yang hanya dapat menangani satu tugas pada satu waktu.
Erat terkait dengan titik di atas, Jahangir (2005) mengatakan bahwa SIM memungkinkan beberapa pengguna untuk mengakses konten yang sama pada waktu yang sama tanpa ada perbedaan. Potensi ini meningkatkan akuntabilitas dari pelaku usaha karena beberapa orang dapat mengakses dan memverifikasi apakah SIM tersebut konsisten atau tidak.
Dalam berkontribusi terhadap argumen mengenai peran SIM dalam meningkatkan pengambilan keputusan, Rhodes (2010) juga menambahkan bahwa: Sistem Informasi Manajemen memberikan manajer akses cepat ke informasi. Ini bisa termasuk interaksi dengan sistem pendukung keputusan lainnya, permintaan informasi, cross- referensi dari informasi eksternal dan potensi data teknik pertambangan. Sistem ini juga dapat membandingkan tujuan strategis dengan keputusan praktis, sehingga manajer dapat mengambil suatu keputusan yang sesuai dengan strategi organisasi. Singkatnya, Rhodes hanya percaya bahwa sistem informasi manajemen adalah suatu faktor dalam mendapatkan informasi yang layak bagi organisasi.
Akhirnya, Sistem Informasi Manajemen memainkan peran penting dalam menyediakan berbagai pilihan efisien dari para pengambil keputusan agar mampu membuat pilihan-pilihan yang mereka sukai, Vittal & Shivraj (2008, p.359-361). Vital, ini memastikan bahwa apapun pilihan yang dibuat oleh pengambil keputusan, hasilnya, lebih sering positif dari pada tidak.
Sebenarnya, adalah alasan mengapa banyak pembuat keputusan cenderung lebih suka menggunakan SIM ketika menemui keputusan-keputusan yang sulit untuk diambil. Dan sebagai konsep memiliki pilihan keputusan yang layak untuk diputuskan dalam bisnis (Vittal & Shivraj, 2008, hal.360-365, Jawadekar, 2006, p.356-359).
Kesimpulan dan Rekomendasi
Ada beberapa tantangan yang diyakini untuk membatasi efektivitas Sistem Informasi Manajemen. Seperti:
• Sifat dinamis SIM membuat sulit bagi beberapa organisasi untuk bersaing dengan prinsip-prinsip, strategi, proposisi atau bahkan ide-ide.
• Situasi yang berbeda untuk keputusan yang berbeda harus dibuat. Hal ini menimbulkan tantangan untuk Teori SIM yang cenderung tidak beradaptasi.
• Kelembagaan, program, monitoring dan evaluasi SIM membutuhkan banyak keahlian.
• Jalannya program SIM cenderung relatif mahal untuk beberapa organisasi, terutama organisasi kecil.
• Manajer dan pemilik bisnis harus menemukan cara untuk menyesuaikan informasi dengan cara
pengambilan keputusan dalam berbagai proses bisnis yang bervariasi.
• Manajemen harus mendorong diberlakukannya saling ketergantungan antara SIM dan pekerja.
• Entitas bisnis harus menemukan cara menanamkan ajaran-ajaran tentang SIM baru dalam rangka mengurangi kecenderungan bisnis yang tertinggal di inception baru.
• Sebuah keputusan yang jelas harus matang dalam bisnis sehingga menyediakan lingkungan kerja yang layak untuk SIM.
• Manajer bisnis harus memastikan bahwa mereka menggunakan tenaga profesional yang mampu menjalankan SIM dan mengambil keputusan.
Pada prinsipnya, itu melekat untuk dicatat bahwa terlepas dari kenyataan bahwa makalah ini adalah ekspresif analitis, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk membawa informasi lebih lanjut ke publik. Selain itu, pemilik bisnis harus belajar untuk mengatasi dengan tren SIM yang selalu berubah dalam pengambilan keputusan. Akhirnya, sangat penting untuk mengingat bahwa perbaikan dalam pengambilan keputusan pada dasarnya dimaksudkan untuk menjamin kepuasan pelanggan sementara usaha terus berkembang dalam keberhasilan.
References:
Allen, B., Heurtebise, A., & Turnbull, J. (2010). Improving Information Access. Business
Management US. Retrieved October 2, 2010 from
http://www.busmanagement.com/article/Improving-information-access/
Al-Zhrani, S. (2010). Management information systems role in decision-making during crises:
case study. Journal of Computer Science, 6 (11), 1247-1251.
Chambers, RJ (1964). The role of information systems in decision making. Management
Technology, 4 (1), 15-25.
Davenport, TH, & Short, JE (1990). The new industrial engineering: Information technology
and business process redesign. MIT Sloan Management Review. Retrieved October 2,
2010 from
http://sloanreview.mit.edu/the-magazine/articles/1990/summer/3141/the-new-
industrial-engineering-information-technology-and-business-process-redesign/2/
Demetrius, K. (1996). The role of expert systems in improving the management of processes in
total quality management organizations. SAM Advanced management Journal . Retrieved
October 2, 2010 from
http://www.allbusiness.com/management/591381-1.html
Jahangir, K. (2005). Improving organizational best practice with information systems.
Knowledge Management Review . Retrieved October 2, 2010 from
http://findarticles.com/p/articles/mi_qa5362/is_200501/ai_n21371132/
Jarboe, KP (2005). Reporting intangibles: A hard look at improving business information in the
US Athena Alliance . Retrieved October 2, 2010 from
http://www.athenaalliance.org/apapers/ReportingIntangibles.htm
Kumar, PK (2006). Information System—Decision Making. IndianMBA . Retrieved October 2,
2010 from http://www.indianmba.com/Faculty_Column/FC307/fc307.html
Jawadekar. (2006). Management information systems: Texts and cases. New York, NY:
McGraw Hill. Kirk, J. (1999). Information in organisations: directions for information management.
Information Research, 4 (3). Retrieved October 2, 2010 from
http://informationr.net/ir/4- 3/paper57.html
Lingham, L. (2006). Managing a business/ Management information system. All Experts.
Retrieved October 2, 2010 from http://en.allexperts.com/q/Managing-Business-
1088/management-information-system.htm
Rhodes, J. (2010). The Role of Management Information Systems in Decision Making. eHow.
Retrieved October 2, 2010 from http://www.ehow.com/facts_7147006_role-information-
systems-decision-making.html
The Maniac . (nd). Management information system: The center of management decision
making. Helium. Retrieved October 2, 2010 from http://www.helium.com/items/242575-
management-information-system-the-center-of-management-decision-making
UStudy.in. (2010). MIS and decision making. Retrieved October 2, 2010 from
http://www.ustudy.in/node/1009
Vittal, A., & Shivraj, K. (2008). Role of IT and KM in improving project management
performance. VINE , 38 (3), 357 – 369.
CONTOH JURNAL PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI APOTEK
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dewasa
ini, informasi mendapat posisi yang sangat penting sebagai sebuah kebbutuhan
utama dalam masyarakat, terutama dalam dunia usaha. Hal ini terjadi karena
dengan informasi tersebut para pengusaha dapat memprediksi keadaan ataupun
kebutuhan masa depan, sehingga mereka dapat mengambil keputusan dan melakukan
tindakan yang terbaik untuk kemajuan usahanya.dengan adanya kepentingan
tesebut, maka informasi yang tersedia haruslah informasi yang berkualitas yakni
informasi yang akurat, tepat waktu dan relefan.
Kebutuhan
terhadap informasi yang berkualitas tersebut di rasakan pula oleh suatu badan
usaha apotek, yakni apotek Media Farma Karangampel. Pada sistem informasi yang
sedang berjalan proses pencatatan data data transaksi penjualan maupun
pembelian masih di tulis dalam nota-nota dan buku-buku penjualan atau
pembelian.
Adanya pencatatan dan
penyimpanan data transaksi dalam bentuk arsip tersebut, menyebabkan kesulitan
bagi karyawan dalam pencarian data-data transaksi, terutama pada saat data atau
okumen transaksi semakin banyak. Selain itu, keadaan tersebut menyebabkan
proses pembuatan laporan membutuhkan waktu yang relatif lama, karena harus
membuat rekapitulasi di lakukan, laporan-laporan yang di sajikan pun sering
tdak akurat. Hal ini terjadi karena beberapa transaksi sering tidaktercatat
ketika apotek ramai oleh pembeli. Sehingga laporan penjualan dan persediaan
obat menjadi tidak akurat. Permasalahan lain yang terjadi adalah adanya
kesulitan pembuatan kartu stok obat. Keberadaan kartu stok yang sangat di
butuhkan, akan tetapi pada sistem yang sedang berjalan pembuatan kartu sok di
dapat di laksanakan sebagaimana mestinya, karena rumitnya pembuatan kartu stok
dengan data obat yang sangat banyak. Oleh karena itu tidak tersedia catatan
khusus yang dapat di lakukan untuk pengecekan persediaan obat.
Melalui kegiatan penelitian ini yakni perancangan sistem
informasi apotek di harapkan dapat menjadi solusi alternatif terhadap
permasalahan-permasalahan yang ada di Apotek Media Farma Karangampel.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem informaasi apotek yang sedang
berjalan di Apotek Media Farma Karangampel.
2. Bagaimana perancangan sistem informasi apotek di
Apotek Media Farma Karangampel.
1.3
Maksud dan Tujuan
Adapun
maksud dari pnelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem informasi apotek di
Apotek Media Farma Karangampel.
Sedangkan
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sistem informasi apotek yang sedang
berjalan di Apotek Media Farma Karangampel.
2. Untuk merancang sistem informasi apotek di Apotek
Media Farma Karangampel.
1.4
Kegunaan Penelitian
Adapun
penelitian ini di harapkan dapat berguna bagi pihak-pihak atau hal sebagai
berikut :
1. Bagi pimpinan apotek, dapat mengembangkan sistem
informasi apotek yang sedang berjalan menjadi sistem informasi apotek berbasis
komputer yang terintegrasi, sehingga diharapkan dapat menyajikan informasi yang
akurat, tepat waktu dan relefan dan dapat mendukung kinerja pimpinan dalam
pembuatan keputusan.
2. Bagi karyawan di bagian transaksi penjualan,
pembelian dan persediaan obat, sistem informasi
apotk ini di harapkan dapat mendukung meningkatkan efektifitas kerja
karyawan.
3. Bagi pengembangan ilmu, dapat memperluas khasanah
dalam pembangunan sistem informasi apotek.
1.5
Batas Masalah
Adapun
batas masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sistem informasi apotek yang di bangun meliputi
bagian transaksi penjualan, pembelian dan persediaan obat.
2. Tansaksi penjualan yang di bahas hanya penjualan
tunai.
3. Transaksi pembelian yang di maksud pembelian berupa
tunai maupun kredit. Pembayaran pembelian kredit hanya satu kali pada saat jath
tempo.
4. Sistem tidak mencakup retur penjualan maupun retur
pembelian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Definifi Sistem
Menurut Jogiyanto (2005) pendekatan sistem yang
menekankan pada prosedur mendefinisikan sebagai : “jaringan kerja dan
prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk
melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan sasaran tertentu”.
Adapun pendekatan sistem yang menekankan pada elemen
atau komponennya mendefinisikan sistem sebagai : “kumpulan dari elemen-elemen
yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
2.2 Definisi
Informasi
Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah “data yang
di olah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang
menerimanya.”
Menurut Abdul Kadir (2003) informasi adalah “data
yang di olah menjadi sebuah bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya dan
bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau saat mendatang.”
2.3 Definisi Sistem
Informasi
Menyangkut pemahaman tentang pengertian sistem
informasi ini, dalam bukunya Abdul Kadir (2003) mengutip pendapat para ahli,
diantaranya :
Menurut Hall sistem informasi adalah “sebuah
rangkaian prosedur formal dimana data di kelompokkan, di proses menjadi
informasi dan di distribusikan kepada pemakai.”
Menurut Bodnar dan Hopwood sistem Informasi adalah
“kumpulan perangkat keras dan perangkat lunak yang di rancang untuk
entransformasikan data ke dala bentuk informasi yang berguna.”
2.4 Definisi Apotek
Dalam peraturan pemerintah nomor 25 tahun 1980 yang
di maksud apotek adalah “suatu tempat tertentu, tempat dimana pekerjaan
kefarmasiaan dan penyaluran obat kepada masyarakat” (Harianto, Nana Khasanah
dan Sudibyo Supardi : 2005).
Adapun tugas dan fungsi apotek adalah sbagai tempat
pengabdian pofesi seorang apotek yang
yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan
peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat,
dan sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang yang di
perlukan masyarakat secara meluas atau merata.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode
Pengumpulan Data
Adapun data yang di kumpulkan pada penelitian ini
berasal dari dua sumber yaitu sumber berikut :
1.
Sumber Data Primer
Data
yang berasal dari sumber data primer di perolehdengan menggunakan dua cara
yaitu :
a.
Observasi
Obserfasi adalah teknik
pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap gejala atau peristiwa
yang terjadi obyek penelitian. Dalam hal ini penulis melakukan observasi untuk
mengamati keadaan fisik, lokasi ata daerah penelitian yaitu apotek Media Farma.
b.
Wawancara
Wawancara adalah teknik
pengumpulan data melaui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul
data dengan pihak yang berkaitan dengan obyek penelitian. Alam hal ini adalah
bagian administrasi.
2.
Sumber Data Sekunder
Adapun data yang
berasal dari sumber data sekunder di peroleh dengan teknik dokumentasi.
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan
dokumen-dokumen yang berubungan dengan
obyek penilitian. Dokumen yang di kumpulkan seperti nota penjualan, faktur
pembelian, surat pesanan, resep, salinan resep dan buku penjualan.
3.2 Metode
Pengembangan Sistem
Pda penelitian ini metode pengembangan sistem yang
dilakukan yaitu model prototipe. Adapun tahapan dari model prototope dapat di
lihat pada gambar 1.

Gambar 1
Model Prototipe
( Sumber :
Raymond, George Schell, “Sistem Informasi Manajemen”)
Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapan
model prototie tersebut :
1)
Mengidentifikasi
kebutuhan pemakai. Pada tahap ini Analisi sistem mewawancarai pemakai untuk
mendapatkan gagasan dari apa yang di inginkan pemakai terhadap sistem, kemudian
melakukan pemodelan terhadap sistem informasi apotekyang sedang berjalan.
2)
Mengembangkan
Prototipe. Pada tahap ini di lakukan perancangan prototie sistem informasi
apotek, seperti perancangan database, perancangan antar muka dan pembangunan
prototipe aplikasi sistem informasi apotek.
3)
Menentukan apakah
prototipe dapat di terima. Pemakai memberikan masukan kepada analisis apakah
prototipe sudah sesuai kebutuhan atau belum. Jika belum sesuai maka kembali ke
tahap awal.
3.3 Alat Bantu
Analisis dan Perancangan
1)
Data Flow Diagram (DFD)
Menurut
Al-Bahra Bin Ladjamudin (2005) data Flow Diagram (DFD) adalah “model dari sistem untuk menggambarkan
pembagian sistem ke modul yang lebih kecil”.
DFD
ini di gunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru
yang akan di kembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik
tempat data tersebut mengalir (misalnya lewat telepon, surat dan sebagai nya),
atau tempat data tersebu akan di simpan (misalnya hard disk file kartu,
diskettte dan lain seebagainya).
2)
Data AlirDokumen (Document Flwochart)
Menurut
Jogiyanto (2005) Bagan Alir Dokumen merupakan bagan alir yang menggambarkan
arus dokumen-dokumen dan laporan-laporan termasuk tembusan-tembusan pada sebuah
sistem.
3)
Normalisasi
Menurut
Jogianto (2005) normalisasi adalah “proses untuk mengorganisasikan file untuk
menghilangkan grup elemen yang berulang-ulang”. Pengelompokan data ke dalam
bentuk tabel, relasi atau file untuk menyatakan entitas dan hubngan mereka
sehingga terwujud satu bentuk database yang mudah untuk di modifikasi”.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Sistem
yang Sedang Berjalan
Pada tahap ini di lakukan kegiatan analisis yaitu
analisis dokumen dan analisis prosedur yang sedang berjalan.
4.1.1
Analisis Dokumen
Analisis
dokumen merupakan kegiatan menganalisis seluruh dokumen dasar yang di gunakan
dan mengalir pada sebuah sistem informasi yang sedang berjalan. Adapn
jenis-jenis dokumen yang di gunakan pada sistem informasi Apotek Media Farma
yang sedang berjalan yaitu resep, noa penjualan resep, nota penjualan non resep
kartu stok, buk harian penjualan, buku kas masuk dan kas keluar. Contoh hasil
analisis dokumen dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.
Analisis Dokumen
Dokumen
|
Uraian
|
Resep
|
Deskripsi: Resep obat yang di
berikan pembeli ke kasir.
Fungsi : Informasi obat yang harus di berikan ke pasien.
Sumber: Konsumen / Pembeli.
Atribut : No Resep, Nama
Pasien, Alamat Pasien, Umur, Nama Dokter, Tgl Resep, Isi Resep, Ket.
|
Nota
penjualan resep
|
Deskripsi
: Bukti trasaksi penjualan yang di berikan kasir ke konsumen /pembei.
Fungsi
: Untuk mencatat dan bukti transaksi penjualan.
Sumber
: Kasir.
Atribut
: Tanggal, Nama Pasien, No Nota, Macam, No Resep, Dokter, Jumlah Bayar.
|
4.2 Analisis
Prosedural yang Sedang Berjalan
Pada tahap ini, prosedur yang di analisis antara
lain prosedur transaksi penjualan non resep, prosedur transaksi penjualan
dengan resep, prosedur pembelian obat, prosedur pembayaran tagihan. Berikut ini
contoh hasil analisis prosedur transaksi penjualan non resep yang sedang
berjalan dan di modelkan dengan document
flowchat dan data flwo diagram.
4.2.1
Prosedural transaksi penjualan non resep
1)
Konsumen/Pembeli
datang ke bagian penjualan/kasir kemudia menyebutkan atau mmberikan daftar
pembeli obat (DPO).
2)
Bagian penjualan/kasir
mngecek persediaan oat jka tidak ada maa akan memberitahukan konsumen bahwa
obat yang di butuhkan tidak ada dan kasir akan membuat catatan obat yang
kosong.
3)
Bagian
penjualan/kasir akan mengambil obat jika persediaan obat ada.
4)
Kasi mencatat daftar
pembelian obat (DPO) tersebut pada buku penjualan harian dan memberikan kembali
DPO ke konsumen.
5)
Kasir membuat
penjualan nota non resep (2 rangkap) kemudian kasir mmberi cap apotek pada nota
penjualan nota tersebut.
6)
Kasir memberikan
obat kepada konsumen di seretai nota penjualan rangkap kesatu dan konsumen
membayar sejumlah uang atas pembelian obat tersebut dan kasir mengarsipkan nota
penjualan rangkap kedua.
7)
Kasir menyerahan
buku penjualan harian ke bagian administrasi setiap waktu kerja telah habis.
8)
Bagian
administrasi merekap data kas masuk dari buk penjualan harian ke dalam buku kas
masuk dan kas keluar dari buku penjualan harian dan memberikan buku tersebut ke
pimpinan atau PSA (Pemilik Sarana Apotek). Pimpinan memberi paraf atau Acc pada
buku kas masuk dan kas keluar dan menyerahkan kembali ke bagian administrasi.
Adapun prosedur
transaksi penjualan non resep tersebut dapat di lihat pada document flowchart di bawah ini :

Gambar 1.
Document
FlowchartTransaksiPenjualan Non Resep
Keterangan :
DPO :
Daftar Pembelian Obat
BPH : Buku Penjualan Harian
BKmKk : Buku Kas masuk Kas Keluar
NP : Nota Penjualan
Berikut
ini contoh data flow diagram hasil analisis prosedur transaksi penjualan yang
sedang berjalan :

Gambar 2.
Data Flow Diagram Transaksi Pennjualan
4.3 Perancangan
Prosedural Kerja yang Diusulkan
Perancangan prosedural kerja meliputi perancangan
prosedur transaksi penjualan non resep, prosedur transaksi penjualan resep,
prosedur transaksi pembelian dan pembayaran tagihan. Berikut ini contoh hasil
analisis prosedur transaksi penjualan non resepyang di usulakan dan di modelkan
dengan document flowchart dan flow diagram.
4.3.1
Prosedur transaksi penjualan non resep
1)
Kosumen/Pembeli
datang ke bagian penjualan/kasir dan menyebutkan atau memberikan daftar pembelian
obat.
2)
Bagian
penjualan/kasir mengecek persediaan obat jika obat tidak ada kasir akan
memberitahu pembeli bahwa obat yang di butuhkan tidak ada dan akan mengambil
obat yang akan di beli jika persediaan ada.
3)
Kasir menginput
dan menyimpan data penjualan ke file penjualan pada database Sistem Informasi
Apotek, kemudian kasir mencetak nota penjualan non resep (1 rangkap).
4)
Kasir memberikan
obat kepada pembeli disertai nota penjualan non resep dan konsumen membayar
sejumlah uang atas pembelian obat tersebut.
5)
Bagian
penjualan/kasir mencetak laporan penjualan harian kemudian menyerahkannya ke
bagian administrasi setiap habis waktu kerja. Bagian adinistrasi memberikan
paraf atau acc pada laporan penjualan harian danmengarsipkan laporan tersebut.
6)
Bagian administrasi
mencetak laporan kas masuk dan kas keluar kemudian menyerahkanya ke pimpinan
setiap habis kerja.
7)
Pimpinan memberi
paraf atau acc pada laporan kas masuk dan kas keluar, kemudian mengarsipkannya.
Adapun
prosedur transaksi penjualan non resep yang di usulkan tersebut dapat di lihat
pada document flowchart di bawah ini
:

Gambar 3.
Document Flowchart Transaksi Penjualan Non Resep
Keterangan :
DPO : Daftar Pembelian Obat
LPH : Laporan Penjualan Harian
LKmKl : Laporan Kas masuk Kas keluar
NP : Nota Pennjualan

Gambar 4.
Data Flow
Diagram Transaksi Penjualan yang Diusulkan
4.4 Perancangan
Basis Data
Dalam perancangan basisdata perlu melakukan proses
normalisasi yakni proses pengelompokan data ke dalam bentuk tabel, relasi atau
file untuk menyatakan entitas dan hubungan mereka sehingga terwujud satu bentuk
database yang mudah untuk di modifikasi. Adapun hasil perancangan basis data
untuk sistem informasi apotek dapat di lihat pada gambar 5.

Gambar 5.
4.5 Perancangan
Antar Muka
Tahap perancangan antar muka (interface) ini menghasilkan prototipe antar muka yang akan menjadi
dasar tahap implementasi interface
sistem informasi apotek pada tahap pemograman. Adapun contoh hasil perancangan
antar muka dapat dilihat pada Gamabar 6.

Gambar 6.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.
Berdasarkan
hasil analisis terhadap sistem informasi yang sedang berjalan di ketahui bahwa
sistem yang ada sekarang memiliki berbagai permasalahan seperti pencarian data
transaksi, pembuatan laporan penjualan/pembelian dan persediaan obat
membutuhkan waktu yang relatif lama serta laporan yang di hasilkan tidak
akurat.
2.
Melalui
perancangan sistem informasi apotek dengan perancangan sistem yang terintegrasi
dan perancangan database yang mengikuti konsep normalisasi di harapkan dapat
mengatasi permasalahan yang terjadi di apotek Media Farma Karangampel.
5.2 Saran
Pada aplikasi sistem informasi ini
masih terdapat kelemahan-kelemahan. Oleh sebab itu ada beberapa saran yang
hendak di sampaikan antara lain :
1.
Pada sistem ini
tidak mencakup retur pembelian maupun penjualan maka jika ada pengembangan
selanjutnya di harapkan untuk membahas juga mengenai retur pembelian dan
penjualan.
2.
Pada transaksi
penjualan dengan resep, satu penjualan hanya belaku untuk satu resep, maka jika
ada pengembangan selanjutnya di harapkan dalam satu transaksi penjualan dapat
menangani lebih dari satu resep.
BAB VI
DAFFTAR PUSTAKA
Jogiyanto, HM. 2005. Analisa dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Abdul Kadir. 2003. Pengenala Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Budhi Irawan.2005.Jaringan Komputer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Raymond McLeod, George Schell. 2004. Sistem Informasi Manajemen.
Jakarta:Indeks.
Al-bahra Bin Ladjamudin.2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Harianto, Nana Khasanah dan Sudibyo. 2005. Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Resep Di
Apotek Rumah Sakit Budhi Asih Jakarta, http://jurnal.ui.ac.id/pdf/2005/v02n01/Harianto020102.pdf
sumber: http://tyan-zutsu.blogspot.com/2014/01/contoh-jurnal-pengembangan-sistem.html
sumber: http://tyan-zutsu.blogspot.com/2014/01/contoh-jurnal-pengembangan-sistem.html
Langganan:
Postingan (Atom)



