Selasa, 14 Juli 2015

Contoh Jurnal Sistem Informasi

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT BERUPA REKAM MEDIS BERBASIS ELEKTRONIK
Aisyah Fitriani Arum
Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM ) Banyuwangi, Jl. A Yani no 80, Banyuwangi, 68416, Indonesia
ABSTRAK
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan publik dalam bidang kesehatan. Namun sampai saat ini masih banyak rumah sakit yang masih menggunakan sistem manual untuk melakukan pendataan terhadap pasien. Oleh karena itu rumah sakit membutuhkan suatu sistem informasi manajemen yang dapat membantu dalam pendataan pasien. Sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada para pasien. Salah satu dari sistem informasi manajemen tersebut adalah rekam medis. Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran Sistem Informasi Manajemen (SIM) Rumah Sakit berupa rekam medis berbasis elektronik. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode penelitian pendekatan analisis  kualitatif untuk mengukur kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu permasalahan rumah sakit terutama dalam pendataan pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pelayanan rumah sakit yang cepat, efisien, akurat dan terperinci mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pasien.
Kata kunci: Rumah Sakit, SIM, Rekam Medis, Rekam Medis Elektronik
1.      PENDAHULUAN
Dengan berkembang pesatnya teknologi sistem informasi saat ini maka penyajian informasi secara efisien dan efektif semakin dibutuhkan. Penyajian informasi seharusnya sudah beralih dari sistem lama yaitu pencatatan manual menjadi system komputerisasi. Demikian halnya pencatatan data pasien di suatu Rumah Sakit.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/1992 Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk  pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian [1]. Rumah sakit yang merupakan salah satu pelayanan publik di bidang kesehatan membutuhkan adanya suatu sistem informasi managemen yang mengatur tentang pendataan pasien.
Sistem informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam bidang tertentu. Dalam sistem informasi diperlukannya klasifikasi alur informasi, hal ini disebabkan keanekaragaman kebutuhan akan suatu informasi oleh pengguna informasi. Kriteria dari sistem informasi antara lain, fleksibel, efektif dan efisien [2]. Sedangkan Sistem Informasi Managemen (SIM) didefinisikan sebagai alat untuk menyajikan suatu informasi dengan cara sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi penerimanya (Kertahadi, 1995). Tujuannya adalah menyajikan informasi guna pengambilan keputusan pada perencana, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan dan menyajikan sinergi organisasi pada proses (Murdick dan Ross , 1993) [3]. Sesuai UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Dijelaskan bahwa pada Bab XI Tentang Pencatatan dan Pelaporan, khususnya Pasal 52 ayat (1) “Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit”, oleh karena itu dibutuhkan adanya penyedia informasi lengkap dan akurat untuk setiap pasien yaitu rekam medis.
Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Gemala Hatta, 2008).  Rekam medis ini bersifat rahasia, aman, dan berisi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun kondisi pada saat ini adalah masih ada rumah sakit yang masih menggunakan rekam medis secara konvensional (tertulis) dalam bentuk tumpukan arsip.  Sering kali kartu rekam medis melakukan pendataan secara berulang dan juga tidak diorganisir dengan rapi sehingga rumah sakit kesulitan dalam menyediakan informasi secara cepat, efisien , akurat dan terperinci.
Solusi yang dapat dilakukan adalah menerapkan Teknologi Informasi (TI) pada rumah sakit yaitu dengan membuat system informasi managemen berupa rekam medis berbasis komputerisasi atau elektronik. Rekam medik elektronik (rekam medic berbasis-komputer) adalah gudang penyimpanan informasi secara elektronik mengenai status kesehatan dan layanan kesehatan yang diperoleh pasien sepanjang hidupnya, tersimpan sedemikian hingga dapat melayani berbagai pengguna rekam yang sah (Shortliffe, 2001). Rekam medik elektronik merupakan catatan  rekam medik pasien   seumur  hidup  pasien  dalam  format  elektronik    tentang  informasi  kesehatan  seseorang    yang  dituliskan    oleh  satu  atau  lebih  petugas  kesehatan secara terpadu dalam tiap kali pertemuan antara petugas kesehatan dengan klien. Rekam medik elektronik  bisa  diakses  dengan  komputer  dari  suatu  jaringan  dengan  tujuan  utama menyediakan  atau  meningkatkan  perawatan  serta  pelayanan  kesehatan  yang efesien  dan  terpadu  (Potter  & Perry,  2009).
1
Gambar 1. Gambaran Rekam Medis berbasis Elektronik
2.        METODOLOGI
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode penelitian pendekatan analisis  kualitatif untuk mengukur kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena[4]. Sedangkan metode penelitian analisis kualitatif dilakukan dengan cara pengumpulan informasi dengan menyebarkan kuisoner, melakukan observasi dan pengamatan, dan melakukan wawancara kepada para pasien serta orang-orang yang pernah mempelajari dan mengerti tentang rekam medis sehingga dapat memahami data aliran rekam medis yang sedang berlaku di rumah sakit serta dapat mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap  pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.
3.        HASIL dan PEMBAHASAN
Dari metode analisis yang telah dilakukan dapat diketahui kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sistem seperti pada gambar 2 serta aliran data rekam medis pada gambar 3 untuk  kemudian digunakan dalam perancangan sistem informasi managemen (SIM) rumah sakit berupa rekam medis berbasis elektronik.
 2
Gambar 2. Pendapat dari pihak terlibat
 3
Gambar 3. Aliran Data Sederhana Rekam medis
Dari aliran data sederhana diatas dapat dibuat use case untuk rekam medis berbasis elektronik. Use-case adalah konstruksi untuk mendeskripsikan bagaimana sistem akan terlihat di mata pengguna potensial. Use-case terdiri dari sekumpulan skenario yang dilakukan oleh seorang aktor (orang,perangkat keras,urutan waktu atau sistem yang lain ). Sedangkan use-case diagram memfasilitasi komunikasi di antara analis dan pengguna serta diantara analis dan klien [5].
4
Gambar 4. Usecase Diagram Sistem
Pada Usecase Diagram di atas terdapat 3 user yang dapat menggunakan sistem,yaitu admin, petugas pendaftaran, dan dokter. Admin dapat mengelola data dokter, pasien, petugas pendaftaran, jenis layanan, jenis persalinan, kelola obat. Petugas pendaftaran dapat mengelola data pasien, data anak, dan proses pendaftaran pasien. Dokter dapat membuat rekam medis, melihat catatan rekam medis pasien dan membuat resep untuk pasien[5].
4.        KESIMPULAN
Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya Sistem Informasi Managemen (SIM) rumah sakit berupa rekam medis berbasis elektronik sangat dibutuhkan oleh rumah sakit karena dapat memberikan pelayanan berupa informasi dengan cepat, efisien, akurat serta terperinci kepada para pasien. Sehingga berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien.
5.        REFERENSI
[1] Al-fatta, Hanif. (2008). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi untuk Keunggulan Bersaing.
[2] Imbar, Radiant Victor & Yuliusman Kurniawan. (2012). Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Medis Rawat Jalan Poliklinik Kebidanan dan Kandungan pada RSUD Kota Batam. Jurnal Sistem Informasi, 07(1). hal 56.
[3] Jayanti, Nusye K. I. (2009). Penyelesaian Hukum dalam Malapraktik Kedokteran.
[4] Nazir, moh Ph. D. (2003) Metode Penelitian. Jakarta: PT Gramedia. hal 16
[5] Sabarguna, MARS, Dr. dr. H. Boy S. (2005). Sistem Informasi Rumah Sakit.

Jumat, 10 Juli 2015

Contoh Jurnal Sistem informasi manajemen dan pengambilan keputusan bisnis

Sistem Informasi Manajemen dan Pengambilan Keputusan Bisnis: Review, Analisis, dan Rekomendasi

Diterjemahkan/dikutip dari: 
http://www.aabri.com/manuscripts/10736.pdf
Penulis: Srinivas Nowduri
Bloomsburg University of Pennsylvania

Abstrak

Peran Sistem Informasi Manajemen dijelaskan dan dianalisis sebagai kemampuan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan dan dampaknya terhadap manajemen tingkat atas dalam organisasi bisnis dijelaskan dengan penekanan pada pengambilan keputusan otomatis. Keterbatasan dan tantangan SIM dibahas dan satu set enam rekomendasi yang diusulkan untuk meningkatkan efektivitas SIM dalam proses pengambilan keputusan.

Pengantar

Sistem Informasi dapat dikonseptualisasikan dalam tiga jenis system, yaitu: Transaksional Pengolahan Sistem (TPS), Sistem Informasi Manajemen (SIM), dan Expert Sistem. SIM memiliki beberapa subset seperti Sistem Pendukung Keputusan dan Informasi Eksekutif Sistem. Peran SIM dalam mendukung keputusan ini sebaiknya dibicarakan dalam konteks subset tersebut sebagai Sistem Pendukung Keputusan (DSS). DSS adalah sebuah sistem berbasis komputer (suatu program aplikasi) yang mampu menganalisis suatu data organisasi dan kemudian menyajikan dengan cara yang membantu pengguna untuk membuat keputusan bisnis yang lebih efisien dan efektif.

Sebagai contoh, sistem pendukung keputusan dapat memberikan:

• Perbandingan angka penjualan selama satu minggu / bulan dan berikutnya

• Proyeksi pendapatan angka berdasarkan asumsi penjualan produk baru

• Konsekuensi dari alternatif keputusan yang berbeda, mengingat pengalaman masa lalu.

Kadang-kadang ada tumpang tindih antara kategori besar Sistem Informasi (SI) dan DSS bisa mampu menyajikan informasi secara grafis melalui sistem pakar atau kecerdasan buatan (AI). Biasanya DSS digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam organisasi bisnis. Top Tingkat manajemen menggunakan DSS untuk keputusan strategis, manajemen menengah menggunakan untuk keputusan taktis sementara pengawas baris pertama digunakan untuk menyebarkan sehari-hari keputusan operasional.

Oleh karena itu, proses pengambilan keputusan dalam bisnis apapun merupakan aspek penting, tidak hanya untuk organisasi tetapi juga bagi individu yang sangat bergantung pada keputusan ini untuk kelangsungan hidup mereka di arena kewirausahaan yang sangat kompetitif (Al-Zhrani, 2010, p.1249-1251).

Menurut Kumar (2006), dalam rangka untuk menentukan SIM, harus dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu: manajemen, informasi, dan sistem. Kumar hanya mendefinisikan manajemen sebagai proses manajer merencanakan, mengatur, memulai dan mengendalikan operasi dalam bisnis. Pada dasarnya, manajemen hanya bisa eksis bila ada subjek / pekerja untuk dikelola (Al-Zhrani, 2010, p.1248-1252; The Maniac, nd).

Kumar juga menyatakan bahwa informasi yang umumnya mengacu pada data yang dianalisis. Dengan kata lain, Informasi (berkaitan dengan bisnis) hasil dari data yang dianalisis menggunakan undang-undang bisnis, prinsip-prinsip dan teori-teori yang dikemukakan oleh berbagai ahli makro ekonomi. Akhirnya, sistem, menurut Kumar, mengacu pada "Satu set elemen bergabung bersama-sama untuk tujuan bersama”.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, Sistem Informasi Manajemen mengacu pada sistem yang menggunakan informasi dalam rangka untuk memastikan pengelolaan usaha. Pada dasarnya, semua aspek SIM dijalankan bersamaan dalam rangka untuk menjamin efisiensi keseluruhan system. Kegagalan dalam satu bagian berarti kegagalan keseluruhan untuk bagian-bagian lain karena mereka semua dirancang untuk berfungsi interdependently (Davenport & Short, 1990).

Konsekwensinya, manajemen yang baik dari sistem informasi yang baik akan mendapatkan keputusan-keputusan yang baik dalam bisnis. Sekarang berdasarkan pada konsep dasar bahwa tulisan ini akan saksama menganalisis peran Sistem Informasi Manajemen dalam pengambilan keputusan.

Khususnya, penelitian ini akan diatur sebagai berikut: Penelitian ini akan dimulai dengan memberikan gambaran gambaran dalam proses pengambilan keputusan dalam bisnis. Dari sini, analisis luas dan peninjauan akan dilakukan pada peran SIM, kemudian akan diikuti dengan menyebutkan daerah dipertanyakan terkait dengan SIM dan pengambilan keputusan. Setelah itu, rekomendasi dan kesimpulan akan diberikan untuk memecahkan masalah.

Peran MIS dalam Meningkatkan pengambilan keputusan

Preliminarily, manyatakan, pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari setiap bisnis (The maniak, nd). Hal ini karena mayoritas operasi dalam suatu organisasi berkisar sekitar keputusan yang dibuat oleh manajemen dan pemangku kepentingan lainnya dalam organisasi. Dan agar keputusan yang akan dibuat memadai, untuk itu sangat penting sistem informasi yang baik karena keputusan didasarkan pada informasi yang tersedia.

Dalam hubungan ini, Jahangir (2005) menyatakan bahwa berdasarkan peran Informasi yang signifikan sangat penting dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat, organisasi harus memastikan bahwa mereka memiliki sistem informasi manajemen yang baik.

Sebagai pertimbangan utama, Sistem Informasi Manajemen sangat kompleks dan halus, yang membutuhkan ketelitian dalam pengambilan keputusan yang harus diambil oleh manajer. Hal ini menjadi alasan bahwa suatu organisasi untuk dapat memastikan bahwa telah memilih individu yang tepat untuk mengontrol sistem informasi. Orang yang  berhati-hati dan profesional adalah,  orang yang dapat menjamin prospek positif dalam SIM berkaitan dengan pengambilan keputusan dan lain yang terkait di bidang bisnis (Lingham, 2006).

Beberapa argumen ilmiah, fakta, pendapat dan pengamatan yang dilakukan oleh berbagai makro ekonomi berkaitan dengan peran Sistem Informasi manajemen dalam meningkatkan pengambilan keputusan, sebagai berikut:

SIM menyediakan platform yang cocok untuk pengambilan keputusan yang baik (Kumar, 2006). Pada dasarnya, tanpa system informasi yang untuk mendapatkan informasi, akan sangat sulit bagi organisasi untuk membuat suatu keputusan.

Selain itu, hal ini sangat penting karena membantu dalam menjaga bisnis, sehingga memastikan bahwa hanya keputusan yang telah terbukti yang digunakan, sementara yang belum dicoba adalah akan digagalkan. Lebih penting lagi, kapasitas untuk memandu pengambilan keputusan memfasilitasi kemajuan dan peningkatan operasi di sebuah perusahaan (Lingham, 2006; Chambers, 1964, hal.15-20).

Penting bagi perusahaan dalam generasi modern, di mana setiap kesalahan kecil dalam pengambilan keputusan dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar (Allen, et al., 2010).

Dengan pemrograman Sistem Informasi Manajemen yang rutin, bisnis pasti akan membuat kemajuan positif dan sumber daya dapat dengan mudah disalurkan ke jalur bisnis yang sah (Allen, et al., 2010).

Sebagai titik fundamental, SIM yang digunakan saat ini dapat melakukan banyak tugas pada waktu yang sama. Ini potensi untuk multitask meningkatkan efisiensi dalam suatu perusahaan karena beberapa operasi bisnis dapat dilakukan secara bersamaan. Dengan hal khusus pengambilan keputusan, kemampuan untuk multitask memastikan bahwa keputusan dibuat cepat bila dibandingkan dengan sistem yang hanya dapat menangani satu tugas pada satu waktu.

Erat terkait dengan titik di atas, Jahangir (2005) mengatakan bahwa SIM memungkinkan beberapa pengguna untuk mengakses konten yang sama pada waktu yang sama tanpa ada perbedaan. Potensi ini meningkatkan akuntabilitas dari pelaku usaha karena beberapa orang dapat mengakses dan memverifikasi apakah SIM tersebut konsisten atau tidak.

Dalam berkontribusi terhadap argumen mengenai peran SIM dalam meningkatkan pengambilan keputusan, Rhodes (2010) juga menambahkan bahwa: Sistem Informasi Manajemen memberikan manajer akses cepat ke informasi. Ini bisa termasuk interaksi dengan sistem pendukung keputusan lainnya, permintaan informasi, cross- referensi dari informasi eksternal dan potensi data teknik pertambangan. Sistem ini juga dapat membandingkan tujuan strategis dengan keputusan praktis, sehingga manajer dapat mengambil suatu keputusan yang sesuai dengan strategi organisasi. Singkatnya, Rhodes hanya percaya bahwa sistem informasi manajemen adalah suatu faktor dalam mendapatkan informasi yang layak bagi organisasi.

Akhirnya, Sistem Informasi Manajemen memainkan peran penting dalam menyediakan berbagai pilihan efisien dari para pengambil keputusan agar mampu membuat pilihan-pilihan yang mereka sukai, Vittal & Shivraj (2008, p.359-361). Vital, ini memastikan bahwa apapun pilihan yang dibuat oleh pengambil keputusan, hasilnya, lebih sering positif dari pada tidak.

Sebenarnya, adalah alasan mengapa banyak pembuat keputusan cenderung lebih suka menggunakan SIM ketika menemui keputusan-keputusan yang sulit untuk diambil. Dan sebagai konsep memiliki pilihan keputusan yang layak untuk diputuskan dalam bisnis (Vittal & Shivraj, 2008, hal.360-365, Jawadekar, 2006, p.356-359).

Kesimpulan dan Rekomendasi

Ada beberapa tantangan yang diyakini untuk membatasi efektivitas Sistem Informasi Manajemen. Seperti:

• Sifat dinamis SIM membuat sulit bagi beberapa organisasi untuk bersaing dengan prinsip-prinsip, strategi, proposisi atau bahkan ide-ide.

• Situasi yang berbeda untuk keputusan yang berbeda harus dibuat. Hal ini menimbulkan tantangan untuk Teori SIM yang cenderung tidak beradaptasi.

• Kelembagaan, program, monitoring dan evaluasi SIM membutuhkan banyak keahlian.

• Jalannya program SIM cenderung relatif mahal untuk beberapa organisasi, terutama organisasi kecil.

• Manajer dan pemilik bisnis harus menemukan cara untuk menyesuaikan informasi dengan cara

pengambilan keputusan dalam berbagai proses bisnis yang bervariasi.

• Manajemen harus mendorong diberlakukannya saling ketergantungan antara SIM dan pekerja.

• Entitas bisnis harus menemukan cara menanamkan ajaran-ajaran tentang SIM baru dalam rangka mengurangi kecenderungan bisnis yang tertinggal di inception baru.

• Sebuah keputusan yang jelas harus matang dalam bisnis sehingga menyediakan lingkungan kerja yang layak untuk SIM.

• Manajer bisnis harus memastikan bahwa mereka menggunakan tenaga profesional yang mampu menjalankan SIM  dan mengambil keputusan.

Pada prinsipnya, itu melekat untuk dicatat bahwa terlepas dari kenyataan bahwa makalah ini adalah ekspresif analitis, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk membawa informasi lebih lanjut ke publik. Selain itu, pemilik bisnis harus belajar untuk mengatasi dengan tren SIM yang selalu berubah dalam pengambilan keputusan. Akhirnya, sangat penting untuk mengingat bahwa perbaikan dalam pengambilan keputusan pada dasarnya dimaksudkan untuk menjamin kepuasan pelanggan sementara usaha terus berkembang dalam keberhasilan.

References:
Allen, B., Heurtebise, A., & Turnbull, J. (2010). Improving Information Access. Business
Management US. Retrieved October 2, 2010 from

http://www.busmanagement.com/article/Improving-information-access/

Al-Zhrani, S. (2010). Management information systems role in decision-making during crises:

case study. Journal of Computer Science, 6 (11), 1247-1251.

Chambers, RJ (1964). The role of information systems in decision making. Management

Technology, 4 (1), 15-25.

Davenport, TH, & Short, JE (1990). The new industrial engineering: Information technology

and business process redesign. MIT Sloan Management Review. Retrieved October 2,

2010 from

http://sloanreview.mit.edu/the-magazine/articles/1990/summer/3141/the-new-

industrial-engineering-information-technology-and-business-process-redesign/2/

Demetrius, K. (1996). The role of expert systems in improving the management of processes in

total quality management organizations. SAM Advanced management Journal . Retrieved

October 2, 2010 from

http://www.allbusiness.com/management/591381-1.html

Jahangir, K. (2005). Improving organizational best practice with information systems.

Knowledge Management Review . Retrieved October 2, 2010 from

http://findarticles.com/p/articles/mi_qa5362/is_200501/ai_n21371132/

Jarboe, KP (2005). Reporting intangibles: A hard look at improving business information in the

US Athena Alliance . Retrieved October 2, 2010 from

http://www.athenaalliance.org/apapers/ReportingIntangibles.htm

Kumar, PK (2006). Information System—Decision Making. IndianMBA . Retrieved October 2,

2010 from http://www.indianmba.com/Faculty_Column/FC307/fc307.html

Jawadekar. (2006). Management information systems: Texts and cases. New York, NY:

McGraw Hill. Kirk, J. (1999). Information in organisations: directions for information management.

Information Research, 4 (3). Retrieved October 2, 2010 from

http://informationr.net/ir/4- 3/paper57.html

Lingham, L. (2006). Managing a business/ Management information system. All Experts.

Retrieved October 2, 2010 from http://en.allexperts.com/q/Managing-Business-

1088/management-information-system.htm

Rhodes, J. (2010). The Role of Management Information Systems in Decision Making. eHow.

Retrieved October 2, 2010 from http://www.ehow.com/facts_7147006_role-information-

systems-decision-making.html

The Maniac . (nd). Management information system: The center of management decision

making. Helium. Retrieved October 2, 2010 from http://www.helium.com/items/242575-

management-information-system-the-center-of-management-decision-making

UStudy.in. (2010). MIS and decision making. Retrieved October 2, 2010 from

http://www.ustudy.in/node/1009

Vittal, A., & Shivraj, K. (2008). Role of IT and KM in improving project management

performance. VINE , 38 (3), 357 – 369.
sumber - http://www.sebarberita.web.id/2012/12/jurnal-sistem-informasi-manajemen-dan.html

CONTOH JURNAL PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI APOTEK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dewasa ini, informasi mendapat posisi yang sangat penting sebagai sebuah kebbutuhan utama dalam masyarakat, terutama dalam dunia usaha. Hal ini terjadi karena dengan informasi tersebut para pengusaha dapat memprediksi keadaan ataupun kebutuhan masa depan, sehingga mereka dapat mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang terbaik untuk kemajuan usahanya.dengan adanya kepentingan tesebut, maka informasi yang tersedia haruslah informasi yang berkualitas yakni informasi yang akurat, tepat waktu dan relefan.
Kebutuhan terhadap informasi yang berkualitas tersebut di rasakan pula oleh suatu badan usaha apotek, yakni apotek Media Farma Karangampel. Pada sistem informasi yang sedang berjalan proses pencatatan data data transaksi penjualan maupun pembelian masih di tulis dalam nota-nota dan buku-buku penjualan atau pembelian.
Adanya pencatatan dan penyimpanan data transaksi dalam bentuk arsip tersebut, menyebabkan kesulitan bagi karyawan dalam pencarian data-data transaksi, terutama pada saat data atau okumen transaksi semakin banyak. Selain itu, keadaan tersebut menyebabkan proses pembuatan laporan membutuhkan waktu yang relatif lama, karena harus membuat rekapitulasi di lakukan, laporan-laporan yang di sajikan pun sering tdak akurat. Hal ini terjadi karena beberapa transaksi sering tidaktercatat ketika apotek ramai oleh pembeli. Sehingga laporan penjualan dan persediaan obat menjadi tidak akurat. Permasalahan lain yang terjadi adalah adanya kesulitan pembuatan kartu stok obat. Keberadaan kartu stok yang sangat di butuhkan, akan tetapi pada sistem yang sedang berjalan pembuatan kartu sok di dapat di laksanakan sebagaimana mestinya, karena rumitnya pembuatan kartu stok dengan data obat yang sangat banyak. Oleh karena itu tidak tersedia catatan khusus yang dapat di lakukan untuk pengecekan persediaan obat.
      Melalui kegiatan penelitian ini yakni perancangan sistem informasi apotek di harapkan dapat menjadi solusi alternatif terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di Apotek Media Farma Karangampel.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Bagaimana sistem informaasi apotek yang sedang berjalan di Apotek Media Farma Karangampel.
2.      Bagaimana perancangan sistem informasi apotek di Apotek Media Farma Karangampel.
1.3  Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari pnelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem informasi apotek di Apotek Media Farma Karangampel.
Sedangkan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui sistem informasi apotek yang sedang berjalan di Apotek Media Farma Karangampel.
2.      Untuk merancang sistem informasi apotek di Apotek Media Farma Karangampel.
1.4  Kegunaan Penelitian
Adapun penelitian ini di harapkan dapat berguna bagi pihak-pihak atau hal sebagai berikut :
1.      Bagi pimpinan apotek, dapat mengembangkan sistem informasi apotek yang sedang berjalan menjadi sistem informasi apotek berbasis komputer yang terintegrasi, sehingga diharapkan dapat menyajikan informasi yang akurat, tepat waktu dan relefan dan dapat mendukung kinerja pimpinan dalam pembuatan keputusan.
2.      Bagi karyawan di bagian transaksi penjualan, pembelian dan persediaan obat, sistem informasi  apotk ini di harapkan dapat mendukung meningkatkan efektifitas kerja karyawan.
3.      Bagi pengembangan ilmu, dapat memperluas khasanah dalam pembangunan sistem informasi apotek. 
1.5  Batas Masalah
Adapun batas masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Sistem informasi apotek yang di bangun meliputi bagian transaksi penjualan, pembelian dan persediaan obat.
2.      Tansaksi penjualan yang di bahas hanya penjualan tunai.
3.      Transaksi pembelian yang di maksud pembelian berupa tunai maupun kredit. Pembayaran pembelian kredit hanya satu kali pada saat jath tempo.
4.      Sistem tidak mencakup retur penjualan maupun retur pembelian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Definifi Sistem
Menurut Jogiyanto (2005) pendekatan sistem yang menekankan pada prosedur mendefinisikan sebagai : “jaringan kerja dan prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan sasaran tertentu”.
Adapun pendekatan sistem yang menekankan pada elemen atau komponennya mendefinisikan sistem sebagai : “kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
2.2  Definisi Informasi
Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah “data yang di olah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.”
Menurut Abdul Kadir (2003) informasi adalah “data yang di olah menjadi sebuah bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau saat mendatang.”
           
2.3  Definisi Sistem Informasi
Menyangkut pemahaman tentang pengertian sistem informasi ini, dalam bukunya Abdul Kadir (2003) mengutip pendapat para ahli, diantaranya :
Menurut Hall sistem informasi adalah “sebuah rangkaian prosedur formal dimana data di kelompokkan, di proses menjadi informasi dan di distribusikan kepada pemakai.”
Menurut Bodnar dan Hopwood sistem Informasi adalah “kumpulan perangkat keras dan perangkat lunak yang di rancang untuk entransformasikan data ke dala bentuk informasi yang berguna.”
2.4  Definisi Apotek
Dalam peraturan pemerintah nomor 25 tahun 1980 yang di maksud apotek adalah “suatu tempat tertentu, tempat dimana pekerjaan kefarmasiaan dan penyaluran obat kepada masyarakat” (Harianto, Nana Khasanah dan Sudibyo Supardi : 2005).
Adapun tugas dan fungsi apotek adalah sbagai tempat pengabdian pofesi seorang apotek yang  yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat, dan sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang yang di perlukan masyarakat secara meluas atau merata.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Metode Pengumpulan Data
Adapun data yang di kumpulkan pada penelitian ini berasal dari dua sumber yaitu sumber berikut :
1.      Sumber Data Primer
Data yang berasal dari sumber data primer di perolehdengan menggunakan dua cara yaitu :
a.       Observasi
Obserfasi adalah teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap gejala atau peristiwa yang terjadi obyek penelitian. Dalam hal ini penulis melakukan observasi untuk mengamati keadaan fisik, lokasi ata daerah penelitian yaitu apotek Media Farma.
b.      Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melaui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data dengan pihak yang berkaitan dengan obyek penelitian. Alam hal ini adalah bagian administrasi.
2.      Sumber Data Sekunder
Adapun data yang berasal dari sumber data sekunder di peroleh dengan teknik dokumentasi. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen yang berubungan  dengan obyek penilitian. Dokumen yang di kumpulkan seperti nota penjualan, faktur pembelian, surat pesanan, resep, salinan resep dan buku penjualan.
3.2  Metode Pengembangan Sistem
Pda penelitian ini metode pengembangan sistem yang dilakukan yaitu model prototipe. Adapun tahapan dari model prototope dapat di lihat pada gambar 1.
Gambar 1
Model Prototipe
( Sumber : Raymond, George Schell, “Sistem Informasi Manajemen”)
Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapan model prototie tersebut :
1)      Mengidentifikasi kebutuhan pemakai. Pada tahap ini Analisi sistem mewawancarai pemakai untuk mendapatkan gagasan dari apa yang di inginkan pemakai terhadap sistem, kemudian melakukan pemodelan terhadap sistem informasi apotekyang sedang berjalan.
2)      Mengembangkan Prototipe. Pada tahap ini di lakukan perancangan prototie sistem informasi apotek, seperti perancangan database, perancangan antar muka dan pembangunan prototipe aplikasi sistem informasi apotek.
3)      Menentukan apakah prototipe dapat di terima. Pemakai memberikan masukan kepada analisis apakah prototipe sudah sesuai kebutuhan atau belum. Jika belum sesuai maka kembali ke tahap awal.
3.3  Alat Bantu Analisis dan Perancangan
1)      Data Flow Diagram (DFD)
Menurut Al-Bahra Bin Ladjamudin (2005) data Flow Diagram (DFD) adalah “model dari sistem untuk menggambarkan pembagian sistem ke modul yang lebih kecil”.
DFD ini di gunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan di kembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik tempat data tersebut mengalir (misalnya lewat telepon, surat dan sebagai nya), atau tempat data tersebu akan di simpan (misalnya hard disk file kartu, diskettte dan lain seebagainya).
2)      Data AlirDokumen (Document Flwochart)
Menurut Jogiyanto (2005) Bagan Alir Dokumen merupakan bagan alir yang menggambarkan arus dokumen-dokumen dan laporan-laporan termasuk tembusan-tembusan pada sebuah sistem.
3)      Normalisasi
Menurut Jogianto (2005) normalisasi adalah “proses untuk mengorganisasikan file untuk menghilangkan grup elemen yang berulang-ulang”. Pengelompokan data ke dalam bentuk tabel, relasi atau file untuk menyatakan entitas dan hubngan mereka sehingga terwujud satu bentuk database yang mudah untuk di modifikasi”.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1  Analisis Sistem yang Sedang Berjalan
Pada tahap ini di lakukan kegiatan analisis yaitu analisis dokumen dan analisis prosedur yang sedang berjalan.
4.1.1        Analisis Dokumen
Analisis dokumen merupakan kegiatan menganalisis seluruh dokumen dasar yang di gunakan dan mengalir pada sebuah sistem informasi yang sedang berjalan. Adapn jenis-jenis dokumen yang di gunakan pada sistem informasi Apotek Media Farma yang sedang berjalan yaitu resep, noa penjualan resep, nota penjualan non resep kartu stok, buk harian penjualan, buku kas masuk dan kas keluar. Contoh hasil analisis dokumen dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Analisis Dokumen
Dokumen
Uraian
Resep
Deskripsi: Resep obat yang di berikan pembeli ke kasir.
Fungsi  : Informasi obat yang harus di berikan ke pasien.
Sumber: Konsumen / Pembeli.
Atribut : No Resep, Nama Pasien, Alamat Pasien, Umur, Nama Dokter, Tgl Resep, Isi Resep, Ket.
Nota penjualan resep
Deskripsi : Bukti trasaksi penjualan yang di berikan kasir ke konsumen /pembei.
Fungsi : Untuk mencatat dan bukti transaksi penjualan.
Sumber : Kasir.
Atribut : Tanggal, Nama Pasien, No Nota, Macam, No Resep, Dokter, Jumlah Bayar.
4.2  Analisis Prosedural yang Sedang Berjalan
Pada tahap ini, prosedur yang di analisis antara lain prosedur transaksi penjualan non resep, prosedur transaksi penjualan dengan resep, prosedur pembelian obat, prosedur pembayaran tagihan. Berikut ini contoh hasil analisis prosedur transaksi penjualan non resep yang sedang berjalan dan di modelkan dengan document flowchat dan data flwo diagram.
4.2.1        Prosedural transaksi penjualan non resep
1)      Konsumen/Pembeli datang ke bagian penjualan/kasir kemudia menyebutkan atau mmberikan daftar pembeli obat (DPO).
2)      Bagian penjualan/kasir mngecek persediaan oat jka tidak ada maa akan memberitahukan konsumen bahwa obat yang di butuhkan tidak ada dan kasir akan membuat catatan obat yang kosong.
3)      Bagian penjualan/kasir akan mengambil obat jika persediaan obat ada.
4)      Kasi mencatat daftar pembelian obat (DPO) tersebut pada buku penjualan harian dan memberikan kembali DPO ke konsumen.
5)      Kasir membuat penjualan nota non resep (2 rangkap) kemudian kasir mmberi cap apotek pada nota penjualan nota tersebut.
6)      Kasir memberikan obat kepada konsumen di seretai nota penjualan rangkap kesatu dan konsumen membayar sejumlah uang atas pembelian obat tersebut dan kasir mengarsipkan nota penjualan rangkap kedua.
7)      Kasir menyerahan buku penjualan harian ke bagian administrasi setiap waktu kerja telah habis.
8)      Bagian administrasi merekap data kas masuk dari buk penjualan harian ke dalam buku kas masuk dan kas keluar dari buku penjualan harian dan memberikan buku tersebut ke pimpinan atau PSA (Pemilik Sarana Apotek). Pimpinan memberi paraf atau Acc pada buku kas masuk dan kas keluar dan menyerahkan kembali ke bagian administrasi.
Adapun prosedur transaksi penjualan non resep tersebut dapat di lihat pada document flowchart di bawah ini :
Gambar 1.
Document FlowchartTransaksiPenjualan Non Resep
Keterangan :
DPO               : Daftar Pembelian Obat
BPH                 : Buku Penjualan Harian
BKmKk           : Buku Kas masuk Kas Keluar
NP                   : Nota Penjualan
Berikut ini contoh data flow diagram hasil analisis prosedur transaksi penjualan yang sedang berjalan :
Gambar 2.
Data Flow Diagram Transaksi Pennjualan
4.3  Perancangan Prosedural Kerja yang Diusulkan
Perancangan prosedural kerja meliputi perancangan prosedur transaksi penjualan non resep, prosedur transaksi penjualan resep, prosedur transaksi pembelian dan pembayaran tagihan. Berikut ini contoh hasil analisis prosedur transaksi penjualan non resepyang di usulakan dan di modelkan dengan document flowchart dan flow diagram.
4.3.1        Prosedur transaksi penjualan non resep
1)      Kosumen/Pembeli datang ke bagian penjualan/kasir dan menyebutkan atau memberikan daftar pembelian obat.
2)      Bagian penjualan/kasir mengecek persediaan obat jika obat tidak ada kasir akan memberitahu pembeli bahwa obat yang di butuhkan tidak ada dan akan mengambil obat yang akan di beli jika persediaan ada.
3)      Kasir menginput dan menyimpan data penjualan ke file penjualan pada database Sistem Informasi Apotek, kemudian kasir mencetak nota penjualan non resep (1 rangkap).
4)      Kasir memberikan obat kepada pembeli disertai nota penjualan non resep dan konsumen membayar sejumlah uang atas pembelian obat tersebut.
5)      Bagian penjualan/kasir mencetak laporan penjualan harian kemudian menyerahkannya ke bagian administrasi setiap habis waktu kerja. Bagian adinistrasi memberikan paraf atau acc pada laporan penjualan harian danmengarsipkan laporan tersebut.
6)      Bagian administrasi mencetak laporan kas masuk dan kas keluar kemudian menyerahkanya ke pimpinan setiap habis kerja.
7)      Pimpinan memberi paraf atau acc pada laporan kas masuk dan kas keluar, kemudian mengarsipkannya.
Adapun prosedur transaksi penjualan non resep yang di usulkan tersebut dapat di lihat pada document flowchart di bawah ini :
Gambar 3.
Document Flowchart Transaksi Penjualan Non Resep
Keterangan :
DPO                : Daftar Pembelian Obat
LPH                 : Laporan Penjualan Harian
LKmKl            : Laporan Kas masuk Kas keluar
NP                   : Nota Pennjualan
Gambar 4.
Data Flow Diagram Transaksi Penjualan yang Diusulkan
4.4  Perancangan Basis Data
Dalam perancangan basisdata perlu melakukan proses normalisasi yakni proses pengelompokan data ke dalam bentuk tabel, relasi atau file untuk menyatakan entitas dan hubungan mereka sehingga terwujud satu bentuk database yang mudah untuk di modifikasi. Adapun hasil perancangan basis data untuk sistem informasi apotek dapat di lihat pada gambar 5.
Gambar 5.
4.5  Perancangan Antar Muka
Tahap perancangan antar muka (interface) ini menghasilkan prototipe antar muka yang akan menjadi dasar tahap implementasi interface sistem informasi apotek pada tahap pemograman. Adapun contoh hasil perancangan antar muka dapat dilihat pada Gamabar 6.
Gambar 6.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.      Berdasarkan hasil analisis terhadap sistem informasi yang sedang berjalan di ketahui bahwa sistem yang ada sekarang memiliki berbagai permasalahan seperti pencarian data transaksi, pembuatan laporan penjualan/pembelian dan persediaan obat membutuhkan waktu yang relatif lama serta laporan yang di hasilkan tidak akurat.
2.      Melalui perancangan sistem informasi apotek dengan perancangan sistem yang terintegrasi dan perancangan database yang mengikuti konsep normalisasi di harapkan dapat mengatasi permasalahan yang terjadi di apotek Media Farma Karangampel.
5.2 Saran
            Pada aplikasi sistem informasi ini masih terdapat kelemahan-kelemahan. Oleh sebab itu ada beberapa saran yang hendak di sampaikan antara lain :
1.      Pada sistem ini tidak mencakup retur pembelian maupun penjualan maka jika ada pengembangan selanjutnya di harapkan untuk membahas juga mengenai retur pembelian dan penjualan.
2.      Pada transaksi penjualan dengan resep, satu penjualan hanya belaku untuk satu resep, maka jika ada pengembangan selanjutnya di harapkan dalam satu transaksi penjualan dapat menangani lebih dari satu resep.
BAB VI
DAFFTAR PUSTAKA
Jogiyanto, HM. 2005. Analisa dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Abdul Kadir. 2003. Pengenala Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Budhi Irawan.2005.Jaringan Komputer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Raymond McLeod, George Schell. 2004. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta:Indeks.
Al-bahra Bin Ladjamudin.2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Harianto, Nana Khasanah dan Sudibyo. 2005. Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Resep Di Apotek Rumah Sakit Budhi Asih Jakarta, http://jurnal.ui.ac.id/pdf/2005/v02n01/Harianto020102.pdf

sumber: http://tyan-zutsu.blogspot.com/2014/01/contoh-jurnal-pengembangan-sistem.html